Sebuah Cerpen: It's Absolutely Wrong!
Waktu itu aku duduk di kelas 4 SD. Bermain dengan teman-teman di halaman rumah masih menjadi kegiatan yang paling mengasyikkan waktu itu. Aku dan teman-teman bermain di halaman belakang rumahku. Di saat yang sama ibuku dan ayahku sedang memperbaiki pagar depan rumah. Kami memainkan sebuah permainan tradisonal yang menggunakan sendal sebagai medianya. Kami menamakan permainan itu main singkong. Dalam permainan akan diawali dengan pembagian kelompok yang mengejar dan kelompok yang berlari menghindari kejaran dari yang mengejar. Ketika itu aku dapat bagian menjadi pemain yang akan lari. Singkat cerita, ketika aku sedang berlari di halaman samping, tiba-tiba saja aku merasa pusing dan akhirnya terjatuh. Aku shock dan merasakan sesuatu yang janggal pada tanganku sebelah kiri. Aku merasa ada yang aneh di bagian siku.
Aku benar-benar tidak habis pikir waktu itu. Tanganku mulai terayun-ayun seperti ada yang salah di bagian siku. Tangan yang maksimalnya hanya bisa bergerak lurus, tapi saat ini sendi engsel di sikuku rasanya lepas dan kehilangan fungsi. Tanganku bisa bergerak melebihi 1800 melebihi normal. Aku benar-benar panik, dan pada awalnya aku memang tidak merasakan sakit sedikitpun. Mungkin, lebih tepatnya kepanikanku saat itu mengalahkan rasa sakit yang ada. Aku sadar, ada yang tidak beres! Nah, saat itu hal yang paling membuatku panik adalah kemarahan ibu! Ya! Tidak ada yang lebih ku takutkan saat itu selain ibuku! Aku benar-benar tidak dapat membayangkan jika ibu marah besar! Aku takut tanganku bakal kenapa-kenapa dan ibu akan memarahiku karna aku tidak berhati-hati.
Saat itu, aku benar-benar panik dan dilema. Haruskah aku memberitahu ibu? Yang ku takutkan aku akan dimarahi karena tidak berhati-hati. Saat itu, aku masih memegangi tanganku dengan kondisi siku yang abnormal. Aku buru-buru berjalan melalui halaman belakang supaya tidak ketahuan ibu. Yang ku pikirkan hanya satu : pergi ke rumah tetanggaku!
Salah satu temanku melihatku tergesa-gesa dan panik, dia bertanya : "kenapa?" dan ketika itu aku hanya mampu menjawab : "tidak ada apa-apa," mungkin dengan bibir yang sudah sangat pucat waktu itu. Sesampainya di rumah tetanggaku, aku menjelaskan apa yang terjadi dan memperlihatkan tanganku yang sudah seperti tak ber-engsel di siku. Duh! Beliau juga terlihat sedikit shock, namun berusaha menenangkanku dan menyuruhku berbaring. Berkali-kali aku meminta beliau untuk tidak memberitahu ibu. Benar-benar tidak terbayangkan betapa aku takut dengan kemarahan yang akan aku terima jika ibu tau hal ini. Mungkin, untuk beberapa orang ini terdengar bodoh. Tapi, itulah yang aku pikirkan dan rasakan saat itu. Dulu, dalam mindset awamku, semua hal buruk yang terjadi hanya akan menjadi bumerang besar dan akan menyulut kemarahan ibu. Dan kemarahan ibuku bukanlah sesuatu yang bisa ku hadapi. Ini trauma tersendiri bagiku. Bukan tanpa alasan, semua hal terjadi karena latar belakang yang bermacam-macam.
Kembali ke tangan, aku tetap memegangi tanganku. Tetanggaku, aku memanggil beliau makngah ( sebutan untuk bibi di minangkabau) mengambilkan bantal untukku dan menyuruhku berbaring. Aku menurut. Makngah memberi pengertian padaku bahwa semua akan baik-baik saja jika beliau memberitahu ibu. Aku pasrah. Setelah beberapa menit berbaring aku merasakan tubuhku mulai tak terkendali. Rasanya lemah dan tanganku mulai membengkak. Dalam keadaan setengah sadar, aku mendengar makngah datang bersama dengan ibu dan ayahku. Ibu terlihat khawatir, namun tidak seperti yang aku bayangkan, beliau benar-benar tidak memarahiku. Terima kasih makngah, batinku bersorak lemah.
***
Kesadaranku benar-benar sudah di luar kendaliku.aku tidak mampu menggerakkan badanku. Aku hanya merasakan dua orang mengangkat tubuhku dan tidak lama setelah itu, aku mendapati tubuhku sudah berada dalam rumahku. Tangan kiriku mulai membengkak. Akhirnya, baju yang aku pakai waktu itu digunting dengan sangat hati-hati oleh ibu karena tidak memungkinkan untuk melepasnya dengan cara normal. Saat itulah, aku diperlakukan seperti ‘bayi’ untuk kedua kalinya dalam hidupku.
Saat itu, semuanya tidak bisa ku lakukan sendiri. Mulai dari makan disuapi, minum memakai tabung minum bayi, bahkan buang air kecil dan buang air besarpun semuanya dibantu ibu. Semua itu dilakukan di atas tempat tidur. Aku benar-benar tidak berdaya. Aku menjalani pengobatan tradisional waktu itu, karena berdasarkan pertimbangan dari semua keluarga, pengobatan tradisional akan lebih efisien, hemat dan juga cepat. Untuk membantu pengobatan, aku dibuatkan gips khusus yang dibuat dari bahan bambu dan kain yang dijahit sedemikian rupa oleh kakekku.
Seminggu pertama, aku hanya berbaring tanpa bisa menoleh ke kanan dan kiri karena betapa sensitifnya tangan kiriku saat itu. Bergerak sedikit saja akan membuatku sangat kesakitan. Hal itu berlangsung selama seminggu. Setelah masa seminggu itu berlalu, aku dibantu ibu untuk mencoba duduk dengan perlahan. Pertama kali mencoba duduk setelah berbaring seminggu lamanya, rasanya seperti seolah-olah bumi diputar-putar ratusan kali dan itu benar-benar berat! Namun, ibu dengan penuh kesabaran membantuku berusaha duduk perlahan-lahan. Mulai dari 100, 150, 300, 600, hingga akhirnya aku bisa duduk dengan normal pada sudut kira-kira 850 dengan bersandar pada sebuah bantal. Dan, pada hari itulah pertama kalinya aku mandi dengan keramas setelah seminggu lamanya hanya di lap dengan kain basah karena keadaannya yang benar-benar tidak memungkinkan bagiku untuk mandi secara normal. Jangankan mandi, bergerak sedikit saja, sakitnya minta ampun.
Tidak sampai di sana saja, itu berlangsung 4 minggu lamanya. Alhamdulillah, semakin hari tanganku mulai membaik. Walau dengan proses yang benar-benar menyakitkan raga dan juga jiwa. Bagimana tidak? Selama sebulan lamanya dalam 24 jam, aku harus menjadi penghuni kamar. Namun, semuanya terasa lebih mudah dengan support dari ibu yang dengan kesabaran penuh senantiasa merawatku.
Aku merasa sangat bersalah pada ibu. Ibu harus merawatku seperti dulu saat aku bayi yang masih belum bisa apa-apa. Aku merasa sangat merepotkan ibu. Ya Allah, ampuni aku. Aku benar-benar merasa berdosa pada ibu. Aku masih ingat, sebulan sebelumnya aku bersuudzon bahwa aku hanya akan menerima kemarahan ibu jika aku memberitahu beliau. Padahal, it’s absolutely wrong! Semuanya tidak seperti yang aku bayangkan. Ini benar-benar menyadarkanku, bahwa sejatinya bukanlah kemarahan yang sebenarnya ingin mereka tunjukkan pada kita. Namun, kekhawatiran mereka tentang kitalah yang sering membuat mereka secara spontan dan bertubi-tubi menghujani telinga kita dengan kalimat-kalimat nasihat dan semua itu kita maknai sebuah kemarahan.
-E N D-
Komentar
Posting Komentar